Info lebih jelas ke: http://jsit.web.id/r1/2013/10/995/
Pintu Syurga
Diposting oleh muswiljsitjateng di 15.25
dakwatuna.com – Dari Aisyah RA saat mendengarkan
Rasulullah SAW bercerita,”Pada waktu Isra’ Mi’raj, aku memasuki surga
dan aku mendengar suara orang membaca Al Quran. Aku bertanya kepada
Jibril AS, “Siapakah orang itu?”, Jibril menjawab, “Haritsah bin
Nu’man.” Rasulullah mengatakan, “Begitulah pahala berbakti kepada Ibu.
Haritsah adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya.” (HR. Nasa’i)
Subhanallah… Allahu Akbar…
Untuk bahagia, sukses dan berkah dalam hidup. Dan masuk surga saat berada di akhirat nanti, kuncinya adalah berbakti kepada kedua orang tua. “Ridha Allah tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murkanya orang tua.”(HR. Bukhari)
Begitu sangat kuatnya arti sebuah bakti kepada orang tua, karena akan mempengaruhi sebuah akhir dalam kehidupan kita. Dan berbakti kepada mereka adalah syarat di terimanya taubat kita oleh Allah.
Mari bersama saling mengingatkan, untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Merenungkan bersama akan keadaan hubungan kita dengan orang tua kita dan juga Allah Sang Maha pencipta. Pernahkah membuat orang tua kita kecewa? Sedih? Dan bahkan pernahkah kita marah dan menghardik mereka? Padahal sudah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah lewat mereka untuk kita.
Mari bersama meminta maaf, bersimpuh dan datang kepada mereka untuk memperbaiki hubungan dan cinta kepada mereka. Seandainya mereka sudah tidak ada maka, banyaklah bertaubat kepada Allah yang telah menciptakan kita. Mohonlah ampun untuk mereka dan sambung hubungan silaturahim dengan kerabat dan saudaranya.
Semua telah di tulis dalam Al Quran, surat cinta dan tuntunan hidup kita dari-Nya. Menceritakan semua tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Perkataan Nabi Isa AS: “Allah memerintahkan aku untuk berbakti kepada ibuku, dan tidak menjadikanku orang yang sombong dan celaka.” (QS. Maryam: 32)
Melihat untaian doa Nabi Ibrahim AS Dalam surat Ibrahim ayat 41: “Wahai Rabb-ku berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku dan seluruh orang-orang mukmin pada hari di tegakkannya hisab.” Begitu juga perkataan Nabi Sulaiman AS, “Ya Tuhanku berikanlah aku ilham dan tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dalam rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An Naml: 19)
Sangat indah untaian nasihat Rasulullah untuk kita, “Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau, jagalah itu dan jangan sia-siakan.” (HR. Tirmidzi)
Apalagi yang kita ragukan?
Surga ada di hadapan kita, dan tergantung kita untuk mampu memasukinya. Semoga mereka ridha kepada kita sehingga Allah pun ridha untuk memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan rahmat-Nya.
Mereka yang kita miliki di dunia ini, semoga mampu menjaganya dan menjadi yang terbaik untuk mereka dunia akhirat. Membahagiakan dan menjadikan mereka bangga di dalam surga-Nya.
Subhanallah… Allahu Akbar…
Untuk bahagia, sukses dan berkah dalam hidup. Dan masuk surga saat berada di akhirat nanti, kuncinya adalah berbakti kepada kedua orang tua. “Ridha Allah tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murkanya orang tua.”(HR. Bukhari)
Begitu sangat kuatnya arti sebuah bakti kepada orang tua, karena akan mempengaruhi sebuah akhir dalam kehidupan kita. Dan berbakti kepada mereka adalah syarat di terimanya taubat kita oleh Allah.
Mari bersama saling mengingatkan, untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Merenungkan bersama akan keadaan hubungan kita dengan orang tua kita dan juga Allah Sang Maha pencipta. Pernahkah membuat orang tua kita kecewa? Sedih? Dan bahkan pernahkah kita marah dan menghardik mereka? Padahal sudah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah lewat mereka untuk kita.
Mari bersama meminta maaf, bersimpuh dan datang kepada mereka untuk memperbaiki hubungan dan cinta kepada mereka. Seandainya mereka sudah tidak ada maka, banyaklah bertaubat kepada Allah yang telah menciptakan kita. Mohonlah ampun untuk mereka dan sambung hubungan silaturahim dengan kerabat dan saudaranya.
Semua telah di tulis dalam Al Quran, surat cinta dan tuntunan hidup kita dari-Nya. Menceritakan semua tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Perkataan Nabi Isa AS: “Allah memerintahkan aku untuk berbakti kepada ibuku, dan tidak menjadikanku orang yang sombong dan celaka.” (QS. Maryam: 32)
Melihat untaian doa Nabi Ibrahim AS Dalam surat Ibrahim ayat 41: “Wahai Rabb-ku berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku dan seluruh orang-orang mukmin pada hari di tegakkannya hisab.” Begitu juga perkataan Nabi Sulaiman AS, “Ya Tuhanku berikanlah aku ilham dan tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dalam rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An Naml: 19)
Sangat indah untaian nasihat Rasulullah untuk kita, “Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau, jagalah itu dan jangan sia-siakan.” (HR. Tirmidzi)
Apalagi yang kita ragukan?
Surga ada di hadapan kita, dan tergantung kita untuk mampu memasukinya. Semoga mereka ridha kepada kita sehingga Allah pun ridha untuk memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan rahmat-Nya.
Mereka yang kita miliki di dunia ini, semoga mampu menjaganya dan menjadi yang terbaik untuk mereka dunia akhirat. Membahagiakan dan menjadikan mereka bangga di dalam surga-Nya.
Bergembira Bersama Anak
Diposting oleh muswiljsitjateng di 15.22dakwatuna.com - Ada kata-kata yang sering terungkap dari lisan buah hatiku yang berumur menjelang lima tahun, dan saya pun sangat senang mendengarya. “Kayyis sayang dan suka sama ummi, karena ummi lucu”. Biasanya spontanitas saya akan menjawab, “Kalau begitu ummi akan sering me “lucu” ah… biar kayyis selalu gembira. Ungkapan ini biasanya akan diucapkannya ketika sedang bersama bercanda, bermain dan berakrab ria dengan anak-anak, di sela-sela waktu ketika sedang di rumah bersama anak-anak. Menciumi pipi anak-anak kita, mengajaknya bercanda, menggodanya dengan menggelitiki di perut atau ujung kakinya, menaikan mereka di punggung sambil main kuda-kuda-an, atau pura-pura mengalah dalam berbagai “lomba” yang sengaja kita ciptakan, misalnya lomba mengancing /memakai baju, lomba mengambil handuk saat akan mandi, lomba menghabiskan makan sayur, lomba menggosok gigi, lomba merapikan mainan, dan segudang aktifitas lain yang akan menciptakan keakraban dan suasana ceria bersama anak-anak.
Aktifitas semacam ini sungguh menyenangkan untuk anak-anak kita, dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psykologis dan kestabilan emosi anak. Suasana bahagia dan ceria, akan membuat anak-anak bersikap optimis, penuh gairah dan harapan, serta menjadi pemberani. Buat kita, selaku orang tua, aktifitas semacam ini pun memberikan banyak sekali dampak posistif, yang terutama sekali adalah secara psykologis, merasakan kedekatan yang baik dengan anak. Selain itu perasaan rileks, mampu mengusir ketegangan dan capai fisik yang sebelumnya mendera. Rasanya semua capai yang dibawa saat beraktifitas di luar rumah, spontanitas menjadi hilang, berganti dengan kesegaran, ketika sampai di rumah bisa bergembira dan bercanda dengan anak-anak.
Islam memang manganjurkan, agar orang tua bisamenggembirakan dan menghibur anak dengan sesuatu yang menyenangkan, dengan humor, canda dan permainan yang terarah. Rasa jenuh, sedih, duka dan cemberut yang dialami anak, akan terusir. Rasul saw yang mulia, mengajarkan kita membaca doa “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rasa sedih dan duka, dan dari sifat pemalas”
Para Shahabat juga menggambarkan sifat Rasul saw dengan ucapan : “Rasulullah saw adalah orang yang paling humoris, ketika berada di tengah anak-anak” ( ditakhrij oleh Ibnu suni dalam amal al yaum wa al-lailah hal 199.hadis no 319)
Diantara hal lain yang akan membuat anak bergembira, adalah dengan memberinya mainan. Mainan anak-anak, dengan berbagai modelnya, harus disesuaikan dengan jenis kelamin, anak, agar anak-anak tetap terjaga sesuai fitrahnya. Dia mengenal siapa dirinya, bahwa Allah menciptakan ada anak alaki-laki, ada anak perempuan. Anak perempuan jangan sampai menyerupai anak laki-laki, dan anak laki-laki jangan sampai menyerupai anak perempuan. Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Diriwayatkan bahwa Aisyah ra, sewaktu kecilnya, bermain-main menggunakan boneka.
Demikianlah, agama Islam yang sempurna telah meletakkan berbagai sendi kehidupan sesuai porsinya, semuanya dalam bingkai keseimbangan, tidak berlebihan, masingmasing mendapatkan haknya. Salah satu hak jiwa adalah mendapatkan kebahagiaan dengan hiburan sewajarnya. Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami pasangan dan anak keturunan yang menjadi penyejuk mata bagi kami, dan jadikanlah kami, pemimpin orang-orang yang bertaqwa” wallahu a’lam bishawab.
"Menyembelih Orientasi Duniawi"
Diposting oleh muswiljsitjateng di 15.12Oleh : Cahyadi Takariawan
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah, yang telah mencurahkan cinta dan kasih sayangNya kepada kita semua, sehingga kita senantiasa mendapatkan petunjuk iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, yang dengan penuh cinta dan kasih sayang membimbing umat manusia menuju keridhaan Allah Ta’ala.
Pada pagi hari ini, kita menunaikan salah satu tuntunan agung dalam Islam, yakni shalat Iedul Adha, yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Setiap kali kita menunaikan ibadah Iedul Adha dan qurban, selalu membawa kita kepada pembelajaran luar biasa yang dicontohkan melalui Nabiyullah Ibrahim As. Ada sangat banyak pelajaran penting dan suri teladan utama dari sosok Ibrahim As, salah satunya adalah sikap ketaatan yang paripurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketaatan Nabi Ibrahim As dijadikan sebagai salah satu kisah menyejarah yang diabadikan dalam Al Qur’an :
“Sesungguhnya Ibrahim adalah ummatan qanitan (seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh) kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” (An Nahl : 120)
Pagi ini nanti seusai shalat Ied, kita akan bersama-sama menyaksikan sebentuk prosesi ketaatan kepada Allah, dalam bentuk penyembelihan hewan qurban. Peristiwa ini sebenarnya bisa kita lihat dari segi kemenangan ruhaniyah atau kemenangan spiritual pada diri kita masing-masing. Kita “sembelih” hawa nafsu dan kecenderungan syahwat, kita sembelih orientasi materialisme, untuk meraih keridhaan Allah. Inilah kemenangan spiritual, dimana hawa nafsu dan orientasi duniawi kita tundukkan.
Salah satu makna ibadah qurban, adalah upaya mendapatkan kemenangan ruhaniyah dalam diri kita. Jangan sampai orientasi spiritual terkalahkan oleh orientasi materi yang picik dan sempit. Jangan sampai terbelokkan oleh propaganda materialisme yang dengan sangat kuat dikumandangkan masyarakat dunia saat ini yang pragmatis. Jangan sampai ternodai oleh gaya hidup hedonis yang mengutamakan kehidupan materi di atas kehidupan ruhani.
Nabi Ibrahim As memberikan contoh keteladanan, bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia serta bermartabat, hendaklah dilalui dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnyalah, hidup dalam ketaatan kepada Allah akan memberikan jaminan tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sesungguhnyalah bahagia itu ada di dalam jiwa yang taat kepada Allah, bukan pada gemerlapnya harta dunia.
Marilah kita cermati perilaku dan orientasi serba-materi yang banyak melanda masyarakat dunia saat ini, dimana mereka melalaikan sisi ruhani. Apakah yang bisa dibeli oleh orang-orang kaya dengan segala kekayaan yang mereka miliki?
Mereka bisa membeli ranjang berlapis emas murni, namun tidak bisa membeli tidur nyenyak.
Mereka bisa membeli rumah mewah di tengah kemegahan kota Paris atau Beverly Hills, namun tidak bisa membeli ketenangan hati.
Mereka bisa membeli obat-obatan paling mahal, namun tidak bisa membeli kesehatan.
Mereka bisa membeli rumah sakit bertaraf internasional dengan dokter-dokter spesialis yang sangat lengkap, namun tidak bisa membeli kehidupan.
Mereka bisa membeli pemuasan syahwat sesaat, namun tidak bisa membeli cinta.
Mereka bisa membayar tenaga pengamanan, namun tidak bisa membeli perasaan aman.
Mereka bisa membeli mobil termewah, namun tidak bisa membeli harga diri.
Lihat apa yang bisa dibeli oleh seorang artis Hollywood. Mudah baginya membeli rumah mewah di kawasan elit Beverly Hills, namun toh ia mengaku tidak bahagia. Artis itu menjual rumah mewah miliknya di Beverly Hills, dengan harga US$ 13,5 juta atau setara dengan Rp. 121,5 miliar, setelah bercerai dari pasangannya. Rumah yang terdiri dari enam kamar tidur dan sembilan kamar mandi ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari gym, ruang permainan, ruang untuk menonton film, studio rekaman, hingga kolam renang. Ternyata ia hanya bisa membeli rumah mewah di kawasan sangat bergengsi, namun tidak bisa membeli kebahagiaan dan ketenangan hidup. Ia tidak merasakan kebahagiaan dengan segala kemewahan yang dimilikinya itu.
Lihat pula apa yang terjadi pada artis Hollywood lainnya. Ia memiliki sebuah hunian mewah senilai US$ 55 juta atau sekitar Rp 500 miliar di kawasan Santa Barbara, California. Rumah seluas 2.136 meter persegi dengan panorama gunung dan laut itu dilengkapi home theater, danau buatan, enam kamar tidur, 14 kamar mandi, dan 10 perapian. Namun, artis wanita terkaya dengan kekayaan senilai US$ 2,4 miliar itu memutuskan tak menempatinya, karena merasa tidak tenang dan tidak bahagia tinggal di dalamnya. Sehari-sehari, ia memilih tinggal di sebuah villa bergaya Italia seharga Rp 60 miliar.
Andai saja seseorang membeli mobil mewah yang harganya US$ 2,6 juta atau Rp. 23,4 miliar; dilengkapi mesin 16 silinder dan dapat menghasilkan tenaga 1.200 hp, yang belum lama ini dilaunching. Mobil mewah ini dapat melaju dari kecepatan 0 – 100 km/jam dalam waktu 2,4 detik. Namun, akan digunakan berkendara dimana di Indonesia ini? Tenangkah hati pemiliknya meninggalkan mobil ini di garasi rumah, walau sudah terkunci? Sayang sekali, jika jiwa tergadai dan tersandera oleh barang-barang dan teknologi.
Sejarah peradaban materialisme telah diungkapkan oleh Al Qur’an sebagai dinamika kontemporer yang senantiasa mengemuka dari zaman ke zaman. Tiga peradaban materialisme terdahulu telah diungkapkan Al Qur’an sebagai sebuah pemberitaan mengenai usang dan rapuhnya paham serba materi yang mereka miliki. Perhatikan bagaimana Allah Ta'ala mencatat sejarah kesombongan dan akhirnya kejatuhan mereka:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah berbuat kepada kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak (tentara) yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti adzab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi" (Al Fajr: 6-14).
Ayat di atas memberikan gambaran tentang tiga peradaban materi yang angkuh dan menolak kehidupan ruhani. Peradaban kaum ‘Ad memiliki teknologi canggih, mampu menciptakan bangunan tinggi yang belum pernah ada di negeri lainnya. Peradaban kaum Tsamud memiliki kekuatan fisik yang prima, sehingga terbiasa memotongi bebatuan lembah. Peradaban Fir’aun memiliki kekuatan harta dan tentara, yang dengan itu justru membuatnya berlaku aniaya.
Itulah tiga contoh peradaban materialisme yang diabadikan kisahnya dalam Al Qur’an. Kesudahan dari peradaban materi hanyalah adzab, karena mereka tiodak memiliki mata ruhani, dan hanya menggunakan mata materi.
Peradaban propetik para Nabi dan Rasul terdahulu juga dikisahkan secara berulang dalam Al Qur’an sebagai sesuatu yang akan senantiasa mengemuka sepanjang zaman. Allah Ta'ala mengabadikan kisah pengepungan peradaban Fir'aun terhadap Nabi Musa as, tatkala Musa dan pengikutnya dikejar-kejar oleh Fir'aun bersama tentara kerajaan.
"Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita akan benar-benar tersusul!’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’." (Asy Syu'ara: 61-62).
Sedemikian tinggi keyakinan Nabi Musa as terhadap Allah Ta'ala, membuatnya merasa senantiasa terjaga. Tidak ada kekhawatiran pada dirinya menghadapi kekuatan-kekuatan yang mengancam. Sangat kokoh jawaban Musa atas kekhawatiran kaumnya, "Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." Inilah bentuk nyata kemenangan ruhaniyah pada Nabi Musa.
Demikian pula Nabi Muhammad saw, telah diabadikan kisahnya tatkala dikejar masyarakat paganis, Quraisy:
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. Maka Allah menurunkan ketenanganNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya" (At Taubah: 40).
Menghadapi ancaman serius dari masyarakat paganis yang mengejar tersebut, ada keyakinan luar biasa yang hanya dimiliki oleh masyarakat berperadaban makrifat: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Ini juga contoh nyata kemenangan ruhaniyah yang dimiliki Nabi saw.
Untuk itulah, sebagai masyarakat dan bangsa yang beriman kepada Allah, sudah menjadi kewajiban kita selalu menjaga dan mempertahankan kemenangan ruhaniyah yang telah kita dapatkan dengan rangkaian ibadah qurban. Hendaknya kita memiliki ketinggian ruhaniyah, agar selalu bisa berlaku istiqamah menjalani hidup yang penuh tantangan dan tawaran materialistik. Pilihan-pilihan kita akan selalu berada dalam kebenaran, selama kita menjaga kemenangan ruhaniyah dalam diri kita.
Cara paling sederhana dalam menjaga kemenangan spiritual adalah dengan pendekatan diri kepada Allah secara terus menerus. Menjaga kualitas ibadah kita, menjaga kebersihan hati dan pikiran, menjaga ingatan kepada Allah dalam segala kondisi. Dengan demikian setiap kali berada dalam pilihan-pilihan, mata ruhaniyah kita yang akan banyak memberikan pertimbangan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan dan kebaikan kepada kita semua. Semoga Allah tetapkan kemenangan ruhaniyah atas diri kita dengan ibadah qurban ini. Amin.
*diambil dari materi Khutbah Iedul Adha 1434 H oleh Cahyadi Takariawan
"Pesan Imam Malik di momentum Idul Adha"
Diposting oleh muswiljsitjateng di 15.09Imam Malik berkata:
Siapa yang tidak mampu wukuf di padang 'Arafah hendaklah ia wukuf/berhenti pada batasan-batasan yang sudah ditentukan-Nya.
Siapa yang tidak sanggup mabit di Muzdalifah, hendaklah ia mabit/berada di atas ketaatan kepada Allah supaya Allah mendekatkannya kepada diri-Nya.
Siapa yang tidak mampu menyembelih kurbannya di Mina, hendaklah ia menyembelih sifat kebinatangannya di manapun ia berada supaya ia mencapai ketinggian (surga)
*by Zulfi Akmal, Cairo
Profil JSIT Indonesia (Pusat)
Diposting oleh muswiljsitjateng di 14.18
Profil JSIT Indonesia
NPWP
02.616.957.3-017.000
Klasifikasi Lap. Usaha
85300-Jasa Kegiatan Sosial
Akta Notaris
Haryanto, S.H. No.13, 20 November 2006
Ketua Umum
Drs. Sukro Muhab, M.Si.
Pendidikan adalah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatau
peradaban yang bermuara pada terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang
sejahtera lahir dan bathin. Islam memulai proses membangun peradapan
yang telah porak poranda (zaman jahiliyah) dengan menabuhkan genderang
pendidikan dengan turunnya 5 ayat pertama dari Al Qur’an. Oleh karena
itu pendidikan berarti merupakan suatu proses membina seluruh potensi
manusia sebagai makhluk yang beriman, berfikir dan berkarya untuk
kemaslahatan diri dan lingkungannya. Membangun sekolah berkualitas
berarti menyelenggarakan proses pendidikan yang membentuk kepribadian
peserta didik agar sesuai dengan fitrahnya.Kenyataannya, kualitas pendidikan kita masih suram. Kesuraman itu nampak dari rendahnya kemampuan siswa-siswi dibandingkan dengan negara-negara lain didunia. Dalam skala internasional, menurut laporan Bank Dunia No. 16369-IND (Greanery, 1992), Studi IEA (Internastional Association for the Evaluation of Education Achievement) menunjukan bahwa keterampilan membaca kelas IV SD berada pada tingkat terendah. Sebagai gambaran perbandingan skor rata-rata untuk membaca SD adalah 75.5 (Hongkong), 74.0 (Singapura), 65.1 (Thailand), 52.6 (Filipina), dan 51.7 (Indonesia). Dan hasil The Third International Mathematics and Science Study (IEA, 1999) menunjukan bahwa diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke 33 untuk IPA dan 34 untuk Matematika.
Rendahnya mutu pendidikan nasional sebagian terjadi pada sekolah-sekolah islam. Bila diukur melalui hasil ujian akhir selama lima tahun, dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002, jumlah sekolah islam yang berprestasi baik dari 100 sekolah swasta Nasional dilihat dari hasil NEM maupun UAN hanya berkisar 9 – 12 %.
Rendahnya kualitas sekolah islam, terutama dalam aspek pengembangan mutu akademik, sesungguhnya sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu, dan semakinnyata keterpurukannya bila dibandingkan sekolah-sekolah Kristen. Krisis sekolah-sekolah islam semakin menyedihkan manakala parameter mutu diperluas dengan acuan keefektifan suatu sekolah yang meliputi aspek manajemen, kedisiplinan, kebersihan, kesehatan dan ketenagaan.
Dengan potret mutu dan kondisi sekolah islam dan sekolah umumlainnya seperti itu, sangat mendesak bagi para aktivis pendidikan islam untuk segera bergerak, berbuat dan berjihad di medan pembentukan, pembinaan dan pendidikan bagi putera-puteri masa depan ummat! Kita perlu membangun dan mengembangkan sekolah-sekolah islamyang efektif dan bermutu. Dan pengembangan serta pengelolaan sekolah yang berkualitas akan lebih optimal bila dilakukan melalui kerjasama efektif antar sekolah yang memiliki visi, misi dan orientasi yang sama.
Alamat sekretariat:
Jln. Nusantara 42C, Pasir Gunung, Cimanggis, Depok 16951
Jawa Barat, Indonesia
Telepon dan Facsimile:
+62 31 87716373
Website: www.jsit.web.id
Email: sekretariat@jsit.web.id
Langganan:
Postingan (Atom)


